Berita & Update Finansial
Penguatan saham kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kembali mencuri perhatian pelaku pasar global. Kenaikan saham Ola Electric Mobility (OLAELEC) dalam beberapa sesi terakhir dinilai sebagai sinyal awal kembalinya minat investor terhadap tema elektrifikasi, setelah periode panjang tekanan di sektor tersebut.
Meski masih volatil, pergerakan OLAELEC mulai dibaca sebagai perubahan sentimen, dari skeptisisme ekstrem menuju pendekatan yang lebih selektif dan konstruktif terhadap industri EV. Kondisi ini menjadi penting, karena pasar EV kerap berfungsi sebagai leading indicator bagi rantai pasok material baterai.
Dalam konteks Indonesia, sentimen tersebut berpotensi memberikan angin segar bagi saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), yang berada di posisi strategis dalam ekosistem bahan baku baterai.
EV Mulai Dipercaya Lagi, Pasar Material Ikut Dilihat
Pelaku pasar menilai reli saham EV seperti OLAELEC bukan semata pergerakan teknikal jangka pendek, melainkan refleksi dari perubahan persepsi risiko terhadap industri EV secara keseluruhan.
“Pasar tidak lagi sepenuhnya menutup mata terhadap EV. Meski belum euforia, ada indikasi investor mulai menghargai kembali story pertumbuhan jangka menengah,” ujar analis pasar.
Ketika kepercayaan terhadap industri EV mulai pulih, fokus investor umumnya bergeser ke lapisan hulu, termasuk produsen material baterai yang sebelumnya terdiskon tajam akibat sentimen oversupply dan tekanan harga komoditas.
MBMA Diuntungkan dari Pergeseran Sentimen
Dalam kondisi tersebut, MBMA dinilai berada pada posisi yang menarik karena:
-
Eksposur langsung ke tema EV, bukan hanya nikel konvensional.
-
Proyek HPAL yang memberi leverage terhadap pertumbuhan permintaan baterai.
-
Narasi jangka menengah, saat pasar mulai memisahkan emiten berbasis eksekusi proyek dari komoditas murni.
Sentimen positif EV memang tidak otomatis menaikkan harga nikel, namun historisnya, perubahan sentimen industri sering kali mendahului perbaikan fundamental.
“Saat saham EV mulai bergerak lebih dulu, pasar biasanya mulai membangun posisi di rantai pasok sebelum data permintaan benar-benar terlihat,” kata pelaku pasar.
Selama setahun terakhir, saham-saham EV dan material baterai berada dalam fase risk-off ekstrem. Valuasi tertekan, narasi pertumbuhan diabaikan, dan pasar fokus pada risiko.
Namun kini, kenaikan OLAELEC memberi sinyal bahwa:
-
pasar mulai mengurangi bias negatif terhadap EV,
-
investor mulai membedakan antara emiten lemah dan pemain strategis,
-
dan rantai pasok baterai kembali masuk radar alokasi modal.
Dalam situasi seperti ini, saham seperti MBMA sering dipandang sebagai early positioning play, bukan karena kinerja jangka pendek, melainkan karena potensi re-rating saat sentimen berubah.
Tetap Ada Risiko, Tapi Risk–Reward Mulai Menarik
Analis menegaskan bahwa keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan risiko:
-
eksekusi proyek HPAL,
-
ketepatan waktu produksi,
-
dan dinamika harga nikel global.
Namun, dengan sentimen EV yang mulai membaik, risk–reward MBMA dinilai lebih seimbang dibanding periode sebelumnya, saat narasi EV sepenuhnya ditinggalkan pasar.
“Ketika industri EV mulai dipercaya kembali, saham material baterai yang memiliki proyek dan eksposur nyata cenderung mendapat perhatian lebih dulu,” ujar analis.
Artikel Lainnya
Berita & Update Finansial
Dana IPO Belum Terserap Penuh, Toba Surimi (CRAB) Simpan Rp2,47 Miliar di Bank Mandiri
Jakarta, 3 Januari 2026 — Lebih dari tiga tahun setelah melantai di bursa, PT Toba Surimi Industries Tbk (CRAB) masih menyisakan sebagian dana hasil…
Berita & Update Finansial
Chandra Asri Pacific (TPIA) Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Analis Nilai Strategi Ekspansi Regional
Jakarta, 4 Januari 2026 — PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menunjukkan langkah agresif di awal 2026. Emiten petrokimia yang terafiliasi dengan konglomerat…