Agribisnis & Energi

SGRO Fokus Hilirisasi Usai Diakuisisi POSCO, MTO Jadi Katalis Utama Saham

Emiten perkebunan sawit PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SGRO) memasuki fase transformasi strategis pasca pengambilalihan mayoritas saham oleh POSCO International. Ke depan, SGRO tidak lagi hanya berperan sebagai produsen CPO (crude palm oil), melainkan diarahkan menjadi bagian dari rantai pasok energi hijau dan produk hilir berbasis sawit.

Perubahan arah bisnis ini menjadi salah satu sentimen utama yang membentuk prospek SGRO ke depan, bersamaan dengan menantinya mandatory tender offer (MTO) dari pengendali baru.

Fokus Hilirisasi Sawit dan Energi Terbarukan

Setelah POSCO International menguasai sekitar 65,72% saham SGRO, perseroan diproyeksikan akan lebih agresif mengembangkan bisnis hilir (downstream) produk sawit. POSCO melihat SGRO sebagai aset strategis untuk mendukung rantai pasok energi hijau, termasuk biofuel dan produk turunan sawit bernilai tambah.

Dengan strategi ini, peran SGRO akan bergeser dari sekadar produsen CPO mentah menjadi bagian integral dalam ekosistem renewable energy dan industri hilir berbasis kelapa sawit.

Capex 2025: Perkuat Fondasi Sebelum Hilirisasi

Dari sisi belanja modal, hingga September 2025, SGRO telah merealisasikan capex sekitar Rp 230 miliar. Penggunaan capex tersebut difokuskan pada:

  • Perawatan dan peningkatan produktivitas kebun

  • Penguatan infrastruktur pendukung operasional

  • Efisiensi operasional jangka menengah

Langkah ini dinilai sebagai fase persiapan fundamental, sebelum SGRO masuk ke tahap hilirisasi yang lebih agresif di tahun-tahun berikutnya.

Akuisisi POSCO dan Isu Mandatory Tender Offer (MTO)

POSCO International telah mengakuisisi saham SGRO dengan nilai transaksi sekitar Rp 9,4 triliun. Saat ini, proses mandatory tender offer (MTO) kepada pemegang saham publik masih menunggu persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Isu MTO ini menjadi katalis jangka pendek paling krusial bagi pergerakan harga saham SGRO, karena akan berdampak langsung terhadap:

  • Harga wajar saham

  • Likuiditas perdagangan

  • Risiko dan peluang bagi investor ritel

Selama kepastian MTO belum keluar, saham SGRO cenderung mengalami price overhang.

Rasionalisasi Portofolio Bisnis

Sejalan dengan strategi fokus, SGRO juga melakukan rasionalisasi portofolio usaha. Perseroan secara bertahap meninggalkan bisnis non-core, termasuk divestasi segmen sagu, untuk memusatkan sumber daya dan modal pada bisnis sawit yang dinilai memiliki skala dan potensi jangka panjang lebih besar.

Langkah ini memperjelas positioning SGRO sebagai pure-play sawit, yang ke depan terintegrasi dengan industri hilir dan energi terbarukan.

Catatan Investor: Risiko dan Peluang

Sentimen Positif:

  • Masuknya POSCO sebagai strategic owner global

  • Arah hilirisasi & renewable energy

  • Potensi re-rating valuasi pasca MTO

Risiko Utama:

  • Ketidakpastian waktu dan harga MTO

  • Overhang saham sebelum aksi korporasi final

  • Ketergantungan eksekusi strategi hilirisasi

Artikel Lainnya

Berita & Update Finansial

Dana IPO Belum Terserap Penuh, Toba Surimi (CRAB) Simpan Rp2,47 Miliar di Bank Mandiri

Jakarta, 3 Januari 2026 — Lebih dari tiga tahun setelah melantai di bursa, PT Toba Surimi Industries Tbk (CRAB) masih menyisakan sebagian dana hasil…

Nexman Coffee
Berita & Update Finansial

Chandra Asri Pacific (TPIA) Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Analis Nilai Strategi Ekspansi Regional

Jakarta, 4 Januari 2026 — PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menunjukkan langkah agresif di awal 2026. Emiten petrokimia yang terafiliasi dengan konglomerat…

Nexman Coffee