Energi & Teknologi
Tren Global EV dan Baterai Listrik Jadi Katalis Positif bagi Prospek MBMA
Perkembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan pertumbuhan pesat pemakaian baterai listrik secara global terus memperkuat narasi transisi energi hijau. Tren ini menjadi katalis struktural bagi emiten bahan baku baterai, termasuk PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), yang fokus pada produksi nikel berkualitas tinggi untuk kebutuhan baterai EV.
Berbagai laporan global hingga akhir 2025 menunjukkan bahwa akselerasi adopsi EV dan ekspansi industri baterai masih berada dalam fase pertumbuhan jangka panjang.
Penjualan EV Global Terus Mencetak Rekor
Berdasarkan IEA Global EV Outlook 2025, penjualan kendaraan listrik global mencapai sekitar 25 juta unit sepanjang 2025, meningkat sekitar 35% dibandingkan 2024. Cina tetap menjadi pasar dominan dengan pangsa sekitar 60%, diikuti Eropa (25%) dan Amerika Utara (10%).
BloombergNEF memproyeksikan bahwa pada 2030, EV akan menyumbang sekitar 45% dari total penjualan mobil baru global, didorong oleh penurunan harga baterai hingga di bawah USD 100/kWh. Kondisi ini semakin memperkuat permintaan bahan baku utama baterai, terutama nikel.
Bagi MBMA, tren ini menjadi peluang strategis mengingat perseroan mengembangkan nikel sulfida yang dibutuhkan dalam baterai high-nickel cathode (NMC/NCA). Proyek-proyek MBMA di Indonesia diproyeksikan mampu memasok puluhan ribu ton nikel per tahun untuk pasar baterai global.
Kebijakan Pemerintah Dorong Transisi Energi
Dukungan kebijakan menjadi motor utama pertumbuhan EV:
-
Uni Eropa melalui kebijakan Fit for 55 menargetkan nol emisi kendaraan baru pada 2035
-
Amerika Serikat menggelontorkan insentif besar melalui Inflation Reduction Act (IRA) senilai USD 370 miliar
-
Cina melanjutkan subsidi dan dukungan infrastruktur untuk produsen seperti BYD dan Tesla
Di Asia, India dan Indonesia juga mempercepat adopsi EV melalui insentif pajak dan pembangunan stasiun pengisian daya. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia dengan sekitar 40–50% pasokan global, memperoleh posisi strategis dalam rantai pasok baterai EV.
Larangan ekspor bijih nikel mentah sejak 2020 mendorong hilirisasi, yang menjadi keunggulan kompetitif bagi MBMA dalam menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Permintaan Baterai Listrik Melonjak Tajam
Laporan Benchmark Mineral Intelligence (BMI) 2025 mencatat kapasitas produksi baterai lithium-ion global mencapai sekitar 2 TWh pada akhir 2025, naik 40% secara tahunan. Permintaan terbesar berasal dari:
-
EV (70%)
-
Penyimpanan energi (20%)
-
Elektronik konsumen (10%)
Harga baterai global turun sekitar 15% menjadi rata-rata USD 120/kWh, mempercepat adopsi EV secara massal. Dalam konteks ini, nikel menjadi material krusial karena baterai high-nickel mengandung hingga 80% nikel pada katodanya.
Wood Mackenzie memperkirakan defisit pasokan nikel global hingga 200.000 ton pada 2026, yang berpotensi menjaga harga nikel tetap menarik bagi produsen seperti MBMA.
Implikasi Langsung terhadap Prospek MBMA
Dengan tren tersebut, posisi MBMA dinilai semakin strategis:
-
Permintaan struktural nikel EV meningkat tajam hingga 2030
-
Harga nikel relatif stabil di atas USD 20.000 per ton sepanjang 2025
-
Pendapatan MBMA Q3 2025 tercatat naik sekitar 25% YoY, didorong ekspor ke Cina dan Korea Selatan
Sejumlah analis menilai prospek jangka menengah–panjang MBMA tetap positif, terutama jika perseroan mampu:
-
Menjaga eksekusi proyek hilirisasi
-
Memperkuat standar ESG
-
Mengamankan kemitraan strategis dengan produsen baterai atau EV global
Risiko yang Perlu Dicermati
Meski prospeknya positif, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko:
-
Volatilitas harga nikel akibat potensi oversupply
-
Isu lingkungan dan regulasi ESG, yang krusial bagi akses pasar global
-
Persaingan regional dari produsen Australia dan Filipina
Namun, kebijakan industrial Indonesia dan tren global energi hijau memberi bantalan struktural bagi bisnis MBMA.
Kesimpulan
Perkembangan EV dan baterai listrik global hingga akhir 2025 memperkuat narasi pertumbuhan jangka panjang sektor mineral kritis. Dalam konteks ini, MBMA berada di posisi yang diuntungkan sebagai pemasok nikel baterai-grade dari Indonesia. Selama tren elektrifikasi dan penyimpanan energi berlanjut, prospek bisnis MBMA dinilai tetap konstruktif.
Baca juga : https://nexmancoffee.com/harga-cpo-global-tertekan-di-akhir-2025-biofuel-jadi-harapan-pemulihan/
Cek juga : https://nexmancoffee.com/shop/
Shope : https://id.shp.ee/XGu8zJ9
Tokped : https://tk.tokopedia.com/ZSPHcckwg/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@nexmankopigingseng
Artikel Lainnya
Berita & Update Finansial
Dana IPO Belum Terserap Penuh, Toba Surimi (CRAB) Simpan Rp2,47 Miliar di Bank Mandiri
Jakarta, 3 Januari 2026 — Lebih dari tiga tahun setelah melantai di bursa, PT Toba Surimi Industries Tbk (CRAB) masih menyisakan sebagian dana hasil…
Berita & Update Finansial
Chandra Asri Pacific (TPIA) Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Analis Nilai Strategi Ekspansi Regional
Jakarta, 4 Januari 2026 — PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menunjukkan langkah agresif di awal 2026. Emiten petrokimia yang terafiliasi dengan konglomerat…