Ekonomi Global

Pasar CPO Global di Akhir 2025: Tekanan Harga, Regulasi Ketat, dan Harapan dari Biofuel

Jakarta, Desember 2025 — Pasar Crude Palm Oil (CPO) global memasuki fase penyesuaian di penghujung 2025. Tekanan harga akibat surplus produksi, tantangan regulasi lingkungan, serta dinamika geopolitik global membentuk lanskap industri sawit dunia. Di sisi lain, peluang jangka menengah hingga panjang tetap terbuka, terutama dari sektor biofuel dan ekonomi hijau.

Berikut rangkuman perkembangan utama pasar CPO global hingga Desember 2025.

Tren Harga dan Dinamika Pasar Global

Sepanjang kuartal IV 2025, harga CPO di pasar global—terutama di Bursa Malaysia Derivatives—mengalami penurunan sekitar 8–10%, bergerak di kisaran RM 3.800–4.000 per ton atau setara USD 850–900 per ton.

Penurunan ini dipicu oleh:

  • Surplus produksi Indonesia dan Malaysia yang mencapai rekor gabungan sekitar 48 juta ton pada 2025

  • Persaingan ketat dari minyak kedelai Argentina, yang membanjiri pasar global pasca panen besar

Meski demikian, permintaan dari India dan China masih relatif kuat, sehingga membuka peluang pemulihan harga pada 2026, terutama jika pasokan mulai menyesuaikan.

Faktor cuaca juga turut berperan. Fenomena El Niño yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah perkebunan di Sumatra dan Kalimantan. Analis memperkirakan harga CPO berpotensi rebound jika kondisi cuaca membaik dan permintaan biofuel meningkat.

Regulasi Lingkungan dan Tantangan Keberlanjutan

Isu lingkungan menjadi sorotan utama industri CPO global pada 2025. Uni Eropa mulai menerapkan regulasi anti-deforestasi sejak Januari 2025, yang mewajibkan seluruh impor CPO berasal dari sumber yang bebas deforestasi.

Dampaknya cukup signifikan:

  • Diperkirakan hingga 15% ekspor CPO Indonesia ke UE berpotensi terdampak

  • Sekitar 20% kebun sawit di Indonesia disebut belum sepenuhnya memenuhi standar baru

Sebagai respons, perusahaan besar seperti Wilmar dan Sinar Mas mempercepat adopsi sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Sementara itu, Malaysia meluncurkan program nasional dengan investasi sekitar USD 500 juta untuk teknologi pemantauan hutan dan ketertelusuran rantai pasok.

Di Amerika Serikat, industri sawit masih menghadapi tekanan dari kampanye lingkungan. Namun, laporan World Resources Institute menunjukkan sisi positif, yakni peningkatan sertifikasi keberlanjutan global sebesar 25% sepanjang 2025.

Produksi dan Perdagangan Internasional

Indonesia tetap menjadi produsen CPO terbesar dunia, dengan produksi sekitar 42 juta ton pada 2025, tumbuh 5% dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspansi perkebunan di wilayah timur, termasuk Papua, menjadi salah satu pendorong.

Malaysia mencatat produksi sekitar 19 juta ton, namun menghadapi kendala keterbatasan tenaga kerja migran pascapandemi.

Dari sisi perdagangan:

  • Kesepakatan dagang Indonesia–India mendorong ekspor CPO naik sekitar 10%

  • Persaingan mulai muncul dari negara non-tradisional, seperti Brasil, yang mulai mengembangkan produksi minyak sawit

Sementara itu, konflik geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi harga minyak nabati global, menjadikan CPO lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel.

Biofuel dan Prospek Jangka Panjang

Sektor biofuel menjadi katalis utama prospek jangka panjang CPO. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan CPO untuk biofuel global naik sekitar 30% hingga 2030, seiring komitmen target net-zero emission di Eropa dan Amerika Serikat.

Indonesia sendiri telah meluncurkan program B40 pada 2025, yang mewajibkan campuran biodiesel berbasis CPO sebesar 40%. Program ini diperkirakan dapat menyerap hingga 10 juta ton CPO domestik per tahun.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Inflasi global dan perlambatan ekonomi di Eropa menekan permintaan produk makanan olahan. Namun, peluang baru muncul dari pasar Afrika, di mana impor CPO dari Indonesia tercatat naik sekitar 12% sepanjang 2025.

Kesimpulan

Pasar CPO global di akhir 2025 berada di persimpangan antara tekanan jangka pendek dan peluang struktural jangka panjang. Surplus produksi dan regulasi lingkungan masih membebani harga, namun transformasi menuju energi hijau dan biofuel memberi fondasi positif untuk pertumbuhan ke depan. Bagi pelaku industri dan investor, kunci ke depan terletak pada efisiensi, kepatuhan lingkungan, dan diversifikasi pasar.

Baca juga : https://nexmancoffee.com/pasca-diakuisisi-posco-sgro-bersiap-masuk-hilirisasi-sawit-dan-energi-hijau/
Cek juga : https://nexmancoffee.com/shop/
Shope : https://id.shp.ee/XGu8zJ9
Tokped : https://tk.tokopedia.com/ZSPHcckwg/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@nexmankopigingseng

Artikel Lainnya

Ekonomi Global

Serangan AS ke Venezuela Picu Ketegangan Geopolitik, Saham MEDC dan ELSA Berpotensi Terdampak

Jakarta, 3 Januari 2026 — Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas militer di Caracas, Venezuela, pada…

Nexman Coffee
Ekonomi Global

Arah Kebijakan Bank Sentral Global Kian Dovish, Peluang Menguat di USD dan Aset Berisiko

Peta kebijakan moneter global menunjukkan pergeseran yang semakin akomodatif, dengan mayoritas bank sentral utama mengambil sikap dovish di tengah inflasi yang mulai melandai dan…

Nexman Coffee