Bisnis & Korporasi
DOSS Garap Film “Pelangi di Mars” Lewat Guava XR Studio, Analis Nilai Jadi Katalis Transformasi Bisnis
Jakarta — PT Global Sukses Digital Tbk (DOSS) semakin memantapkan transformasi bisnisnya dari perusahaan ritel perangkat menjadi pengembang ekosistem industri kreatif terintegrasi. Peralihan arah bisnis ini tercermin dari keterlibatan DOSS dalam produksi film “Pelangi di Mars”, yang digarap menggunakan fasilitas Doss Guava XR Studio, entitas di mana DOSS tercatat sebagai pemegang saham mayoritas.
Masuknya DOSS ke bisnis konten dan teknologi Extended Reality (XR) mulai mendapat sorotan pelaku pasar. Sejumlah analis menilai langkah ini berpotensi menjadi sentimen positif karena memperluas sumber pendapatan perseroan, meski kontribusinya terhadap kinerja keuangan diperkirakan masih bertahap.
Diversifikasi Pendapatan: Tidak Lagi Bertumpu pada Penjualan Perangkat
Investment Analyst Edvisor Provina Visindo Indy Naila menilai diversifikasi bisnis ini bisa menjadi katalis positif, karena fokus DOSS kini tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat ritel semata, tetapi mulai mengarah pada layanan produksi konten dan pemanfaatan teknologi XR.
“Diversifikasi pendapatan ini bisa menjadi sentimen positif karena fokus DOSS tidak hanya ke perangkat, tetapi juga ke produksi konten. Namun dampak ke kinerja keuangan akan terlihat secara gradual,” ujar Indy.
Menurut Indy, model bisnis berbasis jasa dan teknologi XR memiliki potensi menciptakan recurring income sekaligus ruang monetisasi yang lebih luas dibandingkan model ritel konvensional.
“Bisnis konten dan XR berpeluang meningkatkan margin karena berbasis jasa dan monetisasi, sehingga profil profitabilitasnya bisa lebih baik dibanding bisnis ritel sebelumnya,” tambahnya.
Antusiasme Publik terhadap Film Dinilai Bisa Jadi Pemicu Kinerja
Sementara itu, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, respons masyarakat terhadap film “Pelangi di Mars” dapat menjadi katalis tambahan, terutama bila jumlah penonton dan penerimaan publik nantinya signifikan.
“Jika nantinya jumlah penonton sangat signifikan, hal ini bisa berdampak positif bagi DOSS dalam meningkatkan kinerja,” ujar Azis.
Ia menjelaskan, bisnis konten dapat memberi kontribusi yang lebih besar jika film yang diproduksi mendapatkan rating baik dan diterima kuat oleh pasar, seiring berkembangnya industri kreatif dan meningkatnya konsumsi konten digital.
“Bisnis konten ini bisa berdampak signifikan jika mendapatkan rating yang baik oleh penonton. Terlebih, ini bisa menjadi peralihan segmen bisnis DOSS karena saat ini industri kreatif juga sedang berkembang dan diminati,” jelasnya.
Risiko Eksekusi dan Konsistensi Monetisasi Jadi Kunci
Meski menarik untuk jangka menengah-panjang, Indy mengingatkan investor tetap perlu mencermati risiko utama transformasi ini, yaitu eksekusi proyek dan konsistensi monetisasi XR dan konten.
“Risiko utamanya ada pada eksekusi proyek serta konsistensi monetisasi XR dan konten. Ini yang akan menentukan keberlanjutan kontribusi ke pendapatan,” ujarnya.
Dengan kata lain, kinerja saham DOSS ke depan akan dipengaruhi oleh kemampuan perseroan membuktikan bahwa bisnis konten berbasis XR mampu menjadi sumber pertumbuhan yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek sesaat.
Valuasi DOSS: Mahal Secara P/E, Tapi Bisa Berubah Jika Bottom Line Menguat
Dari sisi valuasi, Abdul Azis menilai saham DOSS saat ini diperdagangkan di level yang relatif mahal. Berdasarkan rasio price to earnings (P/E), valuasi DOSS berada di kisaran 14,49 kali, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir sekitar 11,24 kali.
Namun, jika proyek film mampu meningkatkan bottom line perseroan, ia menilai valuasi dapat menyesuaikan dan berpotensi menjadi lebih menarik.
“Jika produksi film mampu meningkatkan bottom line perseroan, maka valuasi tersebut berpotensi teradjust menjadi undervalue,” ujarnya.
Dengan pertimbangan tersebut, ia merekomendasikan strategi trading buy untuk saham DOSS dengan target harga Rp 274 per saham.
Kesimpulan
Transformasi DOSS ke ekosistem industri kreatif melalui produksi film “Pelangi di Mars” dan pemanfaatan Guava XR Studio mulai dilihat sebagai katalis baru oleh pelaku pasar. Analis menilai langkah ini berpotensi memperluas pendapatan, meningkatkan margin, dan menciptakan recurring income—namun keberhasilannya bergantung pada eksekusi dan kemampuan monetisasi konten serta XR secara konsisten.
Baca juga : https://nexmancoffee.com/mbma-perkuat-hilirisasi-nikel-untuk-baterai-ev-ini-prospek-dan-risiko-yang-perlu-dicermati/
Cek juga : https://nexmancoffee.com/shop/
Shope : https://id.shp.ee/XGu8zJ9
Tokped : https://tk.tokopedia.com/ZSPHcckwg/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@nexmankopigingseng
Artikel Lainnya
Berita & Update Finansial
Dana IPO Belum Terserap Penuh, Toba Surimi (CRAB) Simpan Rp2,47 Miliar di Bank Mandiri
Jakarta, 3 Januari 2026 — Lebih dari tiga tahun setelah melantai di bursa, PT Toba Surimi Industries Tbk (CRAB) masih menyisakan sebagian dana hasil…
Berita & Update Finansial
Chandra Asri Pacific (TPIA) Resmi Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Analis Nilai Strategi Ekspansi Regional
Jakarta, 4 Januari 2026 — PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali menunjukkan langkah agresif di awal 2026. Emiten petrokimia yang terafiliasi dengan konglomerat…