Ekonomi Global
Peta kebijakan moneter global menunjukkan pergeseran yang semakin akomodatif, dengan mayoritas bank sentral utama mengambil sikap dovish di tengah inflasi yang mulai melandai dan pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini dinilai membuka peluang pada pasar valuta asing (FX), obligasi, hingga ekuitas global.
Sejumlah bank sentral seperti Federal Reserve (The Fed), Bank of England (BOE), Bank of Canada (BoC), Reserve Bank of Australia (RBA), dan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) telah atau berpotensi melanjutkan fase pelonggaran kebijakan. Sebaliknya, Bank of Japan (BOJ) justru masih mempertahankan nada hawkish dengan suku bunga acuan di level 0,75% seiring inflasi domestik yang terus meningkat.
Selisih Suku Bunga Dorong Peluang Carry Trade
Perbedaan arah kebijakan ini menciptakan rate differential yang menarik, khususnya antara Amerika Serikat dan Jepang. Dengan suku bunga The Fed di kisaran 3,5%–3,75% dan BOJ di 0,75%, peluang carry trade USD/JPY dinilai masih signifikan.
Sementara itu, selisih suku bunga antara The Fed dan European Central Bank (ECB) yang berada di sekitar 2,15% juga membuat dolar AS tetap atraktif, meskipun ECB berpotensi menyesuaikan kebijakan jika tekanan ekonomi Eropa berlanjut.
“Perbedaan arah kebijakan moneter antarbank sentral menjadi katalis utama pergerakan mata uang global, terutama untuk strategi berbasis yield,” ujar pelaku pasar.
Probabilitas Kebijakan: BOE Berpotensi Pangkas, BOJ Masih Bisa Naik
Dari sisi policy path, BOE diperkirakan menjadi salah satu bank sentral yang paling dekat untuk kembali memangkas suku bunga jika inflasi Inggris terus menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, BOJ masih membuka ruang pengetatan lanjutan apabila tekanan inflasi domestik berlanjut.
Kondisi ini memperkuat skenario divergence trade, di mana investor memanfaatkan perbedaan kebijakan untuk mengambil posisi long dan short pada pasangan mata uang tertentu.
Transmisi ke Aset Lain: Ekuitas dan Komoditas Ikut Diuntungkan
Kebijakan moneter yang lebih longgar secara global cenderung meningkatkan likuiditas, yang pada gilirannya mendorong risk appetite ke aset berisiko seperti saham, terutama sektor teknologi dan energi.
Di sisi lain, emas dan logam mulia juga berpotensi mendapat dukungan dalam skenario pelonggaran serentak (synchronized easing), baik sebagai lindung nilai inflasi maupun diversifikasi portofolio.
Agenda Penting yang Perlu Dicermati Investor
Pasar kini menanti sejumlah agenda krusial, termasuk pertemuan The Fed pada Januari, rapat kebijakan ECB, serta keputusan lanjutan dari BOE. Data inflasi dan ketenagakerjaan AS, serta pertumbuhan ekonomi Eropa, akan menjadi penentu arah kebijakan berikutnya.
Dengan lanskap moneter global yang semakin dinamis, pelaku pasar dituntut lebih adaptif dalam menyusun strategi portofolio agar tetap responsif terhadap perubahan kebijakan bank sentral.
Baca juga : Saham EV mulai bangkit
Cek juga : https://nexmancoffee.com/shop/
Shope : https://id.shp.ee/XGu8zJ9
Tokped : https://tk.tokopedia.com/ZSPHcckwg/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@nexmankopigingseng
Artikel Lainnya
Ekonomi Global
Serangan AS ke Venezuela Picu Ketegangan Geopolitik, Saham MEDC dan ELSA Berpotensi Terdampak
Jakarta, 3 Januari 2026 — Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas militer di Caracas, Venezuela, pada…
Berita & Update Finansial
Saham EV NYSE Mulai Bangkit, MBMA Berpeluang Jadi Beneficiary Saat Kepercayaan Industri Elektrifikasi Pulih
Penguatan saham kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kembali mencuri perhatian pelaku pasar global. Kenaikan saham Ola Electric Mobility (OLAELEC) dalam beberapa sesi terakhir dinilai sebagai…